CATATAN KESENJANGAN CINTA
Dikala semilir angin berhembus meniup daun hati yang tertutup perasaan malu…
aku seorang biduan yang tak pernah merasakan cinta sejati, tak khayal ku selalu merindukan desahan cinta abadi…
Bak api dalam air, ku tak mampu berbuat apa-apa dengan rasa ini…
Malu dalam rasa, malu dalam cinta…
Terkikis dalam dunia yang sekam, terekam dalam alam malam berbalut bulan asam…
Khayalan langit terjangkit secepat rakit terbawa jerit…
Mulut terbungkam asam kelam, mata terbuta akan derita, nyawa teraniaya jiwa…
Hati ternoda darah cinta, seakan merah bagai luka…
Tubuh berkeringat asa, bercampur dengan aroma penghianatan cinta…
Hilang dari kepala, selayak terbawa arus dunia yang fana…
Terlupa dengan paksa bak jiwa terenggut dari raga…
Bayang-bayang kelam menyelimuti hati yang tertutup asap kepedihan…
Senjang dalam jiwa…
Senjang dalam raga…
Senjang dalam cinta…
HILANG KEJIWAAN
Lamunan nyawa terekam dalam semilir angin yang mengantarku ke dalam naungan emosi…
Renungan jiwa yang menyesatkan hati…
Teringat batin berkata-kata, terngiang dunia yang fana…
Aku terpaku bak batu tak berakar tunggal, menatap kekosongan dimensi yang hilang ditelan imajinasi…
Terlamun dalam sepi, terdiam dalam sinar malam…
Terhilang keinginan memiliki kehidupan hakiki…
Aroma nyawa terenggut sinar emosi, terlempar dalam kesunyian bukit mimpi…
Dihantui nyawa yang memandang dengan sorotan keheningan…
Lupa akan diri, ingat akan mimpi…
Kasih dan sayang menyelimuti cinta, laknat dan benci menyelimuti hati yang tengah dirindu emosi…
Terhapus dalam kekosongan batin, tertulis dalam ke-adaan raga…
Dirimu bukanlah diriku…
Diriku bukanlah dirimu…
Menghilanglah dari angan-angan ideologiku…
Terbanglah bersama burung camar yang kehilangan sayapnya…
Berenang bagai ikan laut yang tak memiliki harapan…
Berjalan sedemikian rupa manusia…
Mengalir bak darah dalam tubuh, menyumbat bak dosa setan di neraka…
Menghilang dalam nyawa…
Menghilang…
Hilang…
BINGUNG
Terbatu diatas kerumunan rumput yang segar menggelegar bagai agar-agar hijau…
Lembaian daun yang berdiri diatas tangkai, helai demi helai mulai berdawai diiringi perasaan santai…
Hitam kelam alam bermalam bulan asam…
Tak urung membuat jiwa ini padam…
Kebingungan yang urung selalu membusung…
Membuat jiwa ini harus menghitung-hitung jarum…
Suara serigala mengaung dengan busung…
Tanpa ada rasa menghitung riung palung…
Menancap bagai pisau, membunuh bagai silau…
Teraniaya nyawa tanpa ada daya, terpaku menatap atap langit yang retak…
Hati membisu diguyur rasa malu, seiring paku dipalu dihadapan kayu…
Hentak bagai sayu, jiwa ini galau…
PATAH SAYAP KIRI
Terlupa dawai bayangmu, terhentak bagai sayu, hidup seakan menjadi batu…
Teraniaya hati bak disayati oleh pisau belati…
Patah sayap kiri terekam dalam nyawa, terekam dalam jiwa…
Patah sayap kiri tak bisa kunaiki bukit cinta yang tinggi…
Kuingin terbang mengelilingi bidadari…
Apa daya sayap kiri telah patah…
Terpotong oleh pisau cinta yang sejati…
Tak kujelajahi awang-awang cinta…
Tak kunikmati aroma udara surga…
Aku takut…,aku takut bersayap lagi…
Sayap membuatku kehilangan angan-angan…
Kupatahkan saja sayap kananku, agar aku dapat berjalan dengan tenang…

Dikala semilir angin berhembus meniup daun hati yang tertutup perasaan malu…
aku seorang biduan yang tak pernah merasakan cinta sejati, tak khayal ku selalu merindukan desahan cinta abadi…
Bak api dalam air, ku tak mampu berbuat apa-apa dengan rasa ini…
Malu dalam rasa, malu dalam cinta…
Terkikis dalam dunia yang sekam, terekam dalam alam malam berbalut bulan asam…
Khayalan langit terjangkit secepat rakit terbawa jerit…
Mulut terbungkam asam kelam, mata terbuta akan derita, nyawa teraniaya jiwa…
Hati ternoda darah cinta, seakan merah bagai luka…
Tubuh berkeringat asa, bercampur dengan aroma penghianatan cinta…
Hilang dari kepala, selayak terbawa arus dunia yang fana…
Terlupa dengan paksa bak jiwa terenggut dari raga…
Bayang-bayang kelam menyelimuti hati yang tertutup asap kepedihan…
Senjang dalam jiwa…
Senjang dalam raga…
Senjang dalam cinta…
HILANG KEJIWAAN
Lamunan nyawa terekam dalam semilir angin yang mengantarku ke dalam naungan emosi…
Renungan jiwa yang menyesatkan hati…
Teringat batin berkata-kata, terngiang dunia yang fana…
Aku terpaku bak batu tak berakar tunggal, menatap kekosongan dimensi yang hilang ditelan imajinasi…
Terlamun dalam sepi, terdiam dalam sinar malam…
Terhilang keinginan memiliki kehidupan hakiki…
Aroma nyawa terenggut sinar emosi, terlempar dalam kesunyian bukit mimpi…
Dihantui nyawa yang memandang dengan sorotan keheningan…
Lupa akan diri, ingat akan mimpi…
Kasih dan sayang menyelimuti cinta, laknat dan benci menyelimuti hati yang tengah dirindu emosi…
Terhapus dalam kekosongan batin, tertulis dalam ke-adaan raga…
Dirimu bukanlah diriku…
Diriku bukanlah dirimu…
Menghilanglah dari angan-angan ideologiku…
Terbanglah bersama burung camar yang kehilangan sayapnya…
Berenang bagai ikan laut yang tak memiliki harapan…
Berjalan sedemikian rupa manusia…
Mengalir bak darah dalam tubuh, menyumbat bak dosa setan di neraka…
Menghilang dalam nyawa…
Menghilang…
Hilang…
BINGUNG
Terbatu diatas kerumunan rumput yang segar menggelegar bagai agar-agar hijau…
Lembaian daun yang berdiri diatas tangkai, helai demi helai mulai berdawai diiringi perasaan santai…
Hitam kelam alam bermalam bulan asam…
Tak urung membuat jiwa ini padam…
Kebingungan yang urung selalu membusung…
Membuat jiwa ini harus menghitung-hitung jarum…
Suara serigala mengaung dengan busung…
Tanpa ada rasa menghitung riung palung…
Menancap bagai pisau, membunuh bagai silau…
Teraniaya nyawa tanpa ada daya, terpaku menatap atap langit yang retak…
Hati membisu diguyur rasa malu, seiring paku dipalu dihadapan kayu…
Hentak bagai sayu, jiwa ini galau…
PATAH SAYAP KIRI
Terlupa dawai bayangmu, terhentak bagai sayu, hidup seakan menjadi batu…
Teraniaya hati bak disayati oleh pisau belati…
Patah sayap kiri terekam dalam nyawa, terekam dalam jiwa…
Patah sayap kiri tak bisa kunaiki bukit cinta yang tinggi…
Kuingin terbang mengelilingi bidadari…
Apa daya sayap kiri telah patah…
Terpotong oleh pisau cinta yang sejati…
Tak kujelajahi awang-awang cinta…
Tak kunikmati aroma udara surga…
Aku takut…,aku takut bersayap lagi…
Sayap membuatku kehilangan angan-angan…
Kupatahkan saja sayap kananku, agar aku dapat berjalan dengan tenang…
0 komentar:
Post a Comment